Sebuah awal
pertemanan yang berujung pada cinta. Cinta yang dirasa tak akan pernah jadi
nyata. Cinta yang penuh tantangan. Cinta yang menghasilkan sebuah kisah. Kisah
yang rumit. Kisah yang penuh suka cita. Kisah yang akan selalu teringat. Saat
itu kita masih sama2 duduk di kelas 2 SMA. Saat-saat remaja beranjak dewasa.
Saat dimana kita belum mengerti apa itu arti pengorbanan. Saat dimana kita
belum terlalu memikirkan apa itu masa depan. Saat dimana kita belum mengerti
apa itu arti saling memberi dan menerima. Saat dimana semua hal itu mulai ku
mengerti.
Mengenal
sesosok lawan jenis yang berawal dari dunia maya. Tak pernah tau bagaimana
fisiknya. Tak pernah tau bagaimana tingkah lakunya. Tak pernah tau bagaimana
sifatnya.
Namun aku
merasakan hal yang jauh berbeda dari itu. Walaupun hanya dari dunia maya, aku
senang mengenalnya. Aku merasa beruntung.
Dia
menyenangkan. Dia mampu menjadi sosok yang selalu membuatku tertawa saat
bersamanya. Dia mampu menjadi sosok yang mengajariku berbagai hal baik. Tanpa
pernah tahu siapa dia, aku berani menyimpulkan bahwa aku mulai suka saat
perkenalan pertama.
Hingga suatu
hari aku bertemu dengannya. Aku merasakan senja itu senja pertama dimana aku
benar-benar melihat sosoknya dengan jelas.
Namun tak lama
semua berubah. Salah paham, itulah hal yang mengawali semua kisah ini. Aku dan
dia tak berhubungan lagi. Sejak saat itu semua berubah. Aku hanya mampu
melihatnya dari jauh dan mendengar kabarnya dari facebook. Aku terus mencari
tau bagaimana keadaannya. Entah itu dari orang lain, atau pun dari media
sosial,.
Sampai aku tau
bahwa dia sudah benar-benar melupakan ku. Aku tak bisa menggambarkan perasaanku
saat itu.
Sakit, itu
sudah pasti. Tapi aku tak bisa memperlihatkan perasaanku pada siapa pun,
termasuk dia. Aku tak pernah berusaha mencari seseorang untuk menggantikan
posisinya. Ya, karena aku tahu tak ada satu orang pun yang mampu menggantikan
posisinya di hatiku. Hal itu terbukti, selama 2 tahun aku menunggunya, aku
berusaha membuka hati untuk orang lain namun aku tak pernah mampu untuk
melupakannya.
Aku terlalu
lelah membohongi perasaanku.
Suatu hari dia
kembali menghubungiku. Dan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya, disaat aku
menahan diri dari segala kesakitanku, disaat aku menunggunya dengan penuh
perjuangan mengendalikan hati, dengan bahagianya dia menceritakan tentang
lelaki penggantiku. Aku hanya berusaha profesional meskipun rasa sakit itu
semakin menjadi2. Aku tak pernah menyerah untuk berharap dia jadi milikku. Aku
terus berusaha mendapat kabarnya.
Sampai
akhirnya waktu yang memang sejak 2 tahun yang lalu aku impikan.
Aku kembali
bersamanya. Kembali dekat dengannya. Kembali merasakan Kebahagiaan. Kembali
tersenyum. Kembali mengukir sebuah kisah yang ku harap endingnya akan
bahagia...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar