Minggu, 18 Mei 2014

Semua Berawal Dari Facebook

Sebuah awal pertemanan yang berujung pada cinta. Cinta yang dirasa tak akan pernah jadi nyata. Cinta yang penuh tantangan. Cinta yang menghasilkan sebuah kisah. Kisah yang rumit. Kisah yang penuh suka cita. Kisah yang akan selalu teringat. Saat itu kita masih sama2 duduk di kelas 2 SMA. Saat-saat remaja beranjak dewasa. Saat dimana kita belum mengerti apa itu arti pengorbanan. Saat dimana kita belum terlalu memikirkan apa itu masa depan. Saat dimana kita belum mengerti apa itu arti saling memberi dan menerima. Saat dimana semua hal itu mulai ku mengerti.
Mengenal sesosok lawan jenis yang berawal dari dunia maya. Tak pernah tau bagaimana fisiknya. Tak pernah tau bagaimana tingkah lakunya. Tak pernah tau bagaimana sifatnya.
Namun aku merasakan hal yang jauh berbeda dari itu. Walaupun hanya dari dunia maya, aku senang mengenalnya. Aku merasa beruntung.
Dia menyenangkan. Dia mampu menjadi sosok yang selalu membuatku tertawa saat bersamanya. Dia mampu menjadi sosok yang mengajariku berbagai hal baik. Tanpa pernah tahu siapa dia, aku berani menyimpulkan bahwa aku mulai suka saat perkenalan pertama.
Hingga suatu hari aku bertemu dengannya. Aku merasakan senja itu senja pertama dimana aku benar-benar melihat sosoknya dengan jelas.
Namun tak lama semua berubah. Salah paham, itulah hal yang mengawali semua kisah ini. Aku dan dia tak berhubungan lagi. Sejak saat itu semua berubah. Aku hanya mampu melihatnya dari jauh dan mendengar kabarnya dari facebook. Aku terus mencari tau bagaimana keadaannya. Entah itu dari orang lain, atau pun dari media sosial,.
Sampai aku tau bahwa dia sudah benar-benar melupakan ku. Aku tak bisa menggambarkan perasaanku saat itu.
Sakit, itu sudah pasti. Tapi aku tak bisa memperlihatkan perasaanku pada siapa pun, termasuk dia. Aku tak pernah berusaha mencari seseorang untuk menggantikan posisinya. Ya, karena aku tahu tak ada satu orang pun yang mampu menggantikan posisinya di hatiku. Hal itu terbukti, selama 2 tahun aku menunggunya, aku berusaha membuka hati untuk orang lain namun aku tak pernah mampu untuk melupakannya.
Aku terlalu lelah membohongi perasaanku.
Suatu hari dia kembali menghubungiku. Dan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya, disaat aku menahan diri dari segala kesakitanku, disaat aku menunggunya dengan penuh perjuangan mengendalikan hati, dengan bahagianya dia menceritakan tentang lelaki penggantiku. Aku hanya berusaha profesional meskipun rasa sakit itu semakin menjadi2. Aku tak pernah menyerah untuk berharap dia jadi milikku. Aku terus berusaha mendapat kabarnya.
Sampai akhirnya waktu yang memang sejak 2 tahun yang lalu aku impikan.

Aku kembali bersamanya. Kembali dekat dengannya. Kembali merasakan Kebahagiaan. Kembali tersenyum. Kembali mengukir sebuah kisah yang ku harap endingnya akan bahagia...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar